GUDANG CINTA by Ozzy

CERITA CINTA: GUDANG CINTA OZZY KISAH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي اعطني محبتك ومعرفتك
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الحبيب العالي القدر العظيم الجاه وعلى آله وصحبه ومن والاه
Pada kesempatan kali ini, penulis akan membagikan sebuah cerita dari mas Ozzy. Cerita nya sangat bermakna dan bikin baper. Oke, berikut ini cerita nya.. Semoga bisa bermanfaat.

GUDANG CINTA
Oleh: Ozzy

Hari itu tanggal 15 Juli 2001 tepatnya pada hari Kamis, saat matahari benar-benar memancarkan ketegarannya. Saat semua orang berlalu lalang dengan segala kesibukannya. Saat mata tak sanggup memandang ke atas takluk oleh kejantanannya. Air-air yang mengalir di sela-sela pematang sawah tampak memantulkan sinar yang menyilaukan mata. Tanah-tanah yang berselimut debu kering yang tenang sesekali buyar oleh desiran angin. Debu-debu yang berterbangan banyak menyelimuti lantai dan kaca-kaca bangunan di sekelilingnya. Aspal-aspal yang panas terasa menyengat menembus sandal jepit yang aku pakai.

Hari itu tak banyak kendaraan yang melintas di sepanjang jalan kecil yang aspalnya sudah rusak. Hanya sesekali sepeda motor berlalu dengan kencang menyapu tanah yang kering dan membawa debu di belakangnya. Membuat orang menutup muka ketika tersimpangi olehnya.

Langkahku semakin ku percepat karena tak tahan dengan sengatan panas dari atas dan bawah. Kulihat dari kejauhan Ibu dan Kakak laki-lakiku sedang bersandar melepas lelah di bawah tiang besar dari kayu di tengah bangunan kuno yang tampak klasik dengan beberapa hiasan tulisan arab yang menempel di dinding kayu bangunan itu, dengan tangan kanan sibuk mengipaskan sebuah buku ke lehernya, terasa segar dan nyaman sekali sepertinya. Sedangkan aku masih sibuk berjalan berjuang melawan panas yang menyengat di kulitku.

Aku berjalan dengan sedikit berlari-lari kecil namun semakin ku percepat, semakin lama semakin dekat dengan bangunan kuno itu, dan semakin dekat semakin terasa keindahan arsitektur bangunan kuno itu. Walaupun bangunan itu terkesan kuno tapi nilai seni dari bangunan itu terasa kental tidak kalah dengan bangunan-bangunan model sekarang.

Kini langkahku kuhentikan di bawah plang besar terbuat dari kayu yang kokoh dengan tulisan yang indah dihiasi dengan ukiran-ukiran khas Jepara. Oo.. ternyata ini tempat yang dikatakan Ibuku, sebuah Pondok Pesantren Salaf yang akan aku tempati untuk menimba berbagai ilmu di dalamnya.
“Subhanallah..! memang benar kata Ibuku pondok ini sangat indah, bernilai seni tinggi, pondok yang sederhana yang mungkin hanya cukup dihuni sekitar tiga puluhan santri saja.” Gumamku dalam hati.
Aku semakin penasaran dengan bangunan kuno itu, ingin sekali aku meneliti segala isi di dalamnya dan rebahan di sana. Merasakan angin yang keluar masuk melalui celah-celah dinding kayu yang terbungkus pernis bening.

Di saat mataku sedang sibuk meneliti segala sudut bangunan kuno itu, seakan-akan tidak ada satu celah pun yang lolos dari pandangan mataku, tiba-tiba terdengar suara memanggilku, suara yang tidak asing di telingaku.

"Nang... Nang... sini!” Suara Ibuku memanggilku.
“Dalem Bu."Jawabku dengan agak kaget.
“Dari mana saja tho kamu Le.. Jalan kok lama sekali.”
“Aku tadi berteduh sebentar Bu, aku tidak tahan sama panasnya.”

Memang udara waktu itu sangat berbeda dengan biasanya. Panasnya mungkin dapat menggosongkan kulit. Sangat baik bagi para petani yang baru memanen hasil sawahnya. Memang di sepanjang jalan yang ku lalui tadi banyak sekali gabah yang dijemur di pelataran rumah. Tapi udara yang seperti ini juga sangat menyusahkan bagi sebagian orang, contohnya marbot masjid yang harus berkali-kali membersihkan debu di lantai dan di kaca masjid. Terlihat seorang yang bertubuh kekar berkulit agak hitam berambut gondrong sedang sibuk mengibaskan dua sapu sekaligus di kedua tangannya dengan mulut dan hidung tertutup dengan kain putih, mungkin agar tidak kemasukan debu.

“Ya sudah. Sini istirahat dulu sebentar setelah itu kita sholat dzuhur berjama’ah di masjid.” Sahut Ibuku.
“Nggeh Bu(red;iya bu). Kakak di mana Bu? kok tidak ada?” Tanyaku sambil menengak-nengok ke sekitar bangunan pondok.
“Masmu sedang ke kamar mandi, katanya tadi dia mau mandi.”
“Kalau begitu aku juga mau mandi ya Bu, badanku lengket sekali rasanya kusam penuh debu. Di mana Bu letak kamar mandinya?” Tanyaku.
“Ya sudah sana cepat! ingat kita belum sholat dzuhur. Kamu lurus saja terus lalu belok kiri.” Jawab Ibuku sambil menunjukkan jalan kecil di antara kamar-kamar santri.

Dengan berjalan santai sambil melihat-lihat suasana dan apa saja yang terdapat di dalam bangunan kuno nan indah itu, aku telusuri jalan kecil yang ditunjukkan oleh Ibuku. Tak terasa aku sudah berada tepat di depan kamar mandi. Hanya terdapat lima kamar di sana, yang tiga khusus untuk mandi dan yang dua terdapat closed di dalamnya. Langsung saja aku masuk, dan melepaskan semua pakaian yang aku kenakan. Guyuran demi guyuran membasahi sekujur tubuhku. Air yang bersih terasa segar mengalir ke sekujur tubuhku. Setelah puas bermain dengan air, kukenakan kembali pakaianku, lalu aku wudhu dan segera menghampiri Ibu dan Kakakku yang sudah menunggu di masjid.
“Maaf lama, habis segar sekali sih airnya.”
“Ya sudah cepat mari kita sholat nanti keburu habis waktunya.” Kata Kakakku.

Setelah usai sholat dzuhur, kami duduk santai di masjid sambil menunggu adzan ashar sembari aku mendengarkan cerita dari Ibu dan Kakakku tentang pondok itu. Dari cerita Ibu dan Kakakku aku jadi tahu banyak hal tentang pondok itu. Almarhum Bapakku adalah alumni dari pondok itu, sekaligus teman akrab pengasuh pondoknya yang sekarang. Sedang Ibuku adalah alumni dari pondok putri yang berada di belakang rumah pengasuh pondok itu. Ternyata, Bapak dan Ibuku cinlok di pondok. Kakakku Mas Wildan juga alumni pondok itu lima tahun yang lalu, dan sekarang sudah berisrti yang juga didapatnya dari pondok itu. Subhanallah, sungguh Maha Cinta Allah melimpahkan jutaan cinta-Nya di dalam Gedung Cinta-Nya.😊

Saat sedang asiknya aku mendengarkan cerita masa lalu dari Kakak dan Ibuku, tiba-tiba terdengar seorang yang berbadan bungkuk, berwajah ramah dan berambut putih menabuh kentongan sebagai pertanda bahwa waktu sholat ashar telah tiba. Terdengar suara mu’adzin mengumandangkan seruan Allah kepada makhluk-Nya untuk menunaikan sholat dengan merdu dan indah.

Belum ada Komentar untuk "GUDANG CINTA by Ozzy"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel